Selasa, 20 April 2010

HAKIKAT ILMU DAN PENELITIAN

A. Pengetahuan
Pengetahuan itu pada hakikatnya meliputi semua yang diketahui oleh seseorang tentang obyek tertentu. Seseorang mengetahui apa yang dimaksud dengan dosa, mengetahui apa yang baik dan yang buruk, mengetahui cara memainkan gitar mengetahui mengapa tanaman menjadi subur jika diberi pupuk dan sebagainya. Seorang nelayan yang tinggal di pinggir pantai mengetahui bahwa pasang naik setiap bula purnama dan pasang surut setiap bulan mati ia memperoleh pengetahuan ini dari pengalamannya. Pengetahuan seperti ini oleh M. Hatta disebut pengetahuan pengalaman. Tetapi ia tidak mengathui mengapa pasang naik pada bulan purnama dan surut pada bulan mati. Dengan kata lain, ia tidak mempunyai pengetahuan (knowledge) tentang ilmu pengetahuan (science) yaitu pengetahuan yang menerangkan pengetahuan pengalaman itu. Pengetahuan itu mencakup baik knowledge maupun science, seni dan teknologi.
Pada dasarnya ada dua cara yang dipergunakan oleh manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah dengan mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri pada pengalaman. Kaum rasionalis mngembangkan faham rasionalisme, sedangkan yang kedua mengembangkan faham empirisme. Sesuatu yang benar menurut idealisme didapatkan oleh manusia dengan cara memikirkannya. Ide bagi kaum rasionalis itu bersifat apriori yang mendahului pengalaman.
Selain dari rasio dan pengalaman pengetahuan yang banar dapat pula diperoleh melalui instuasi atau wahyu. Namun, intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diramalkan, sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur.
B. Teori, Proposisi dan Konsep
1. Teori
Ilmu pengetahuan terdiri atas seperangkat teori dalam bidang tertentu dengan teori itu kita dapat “mmbaca” kenyataan kenyataan empiris yang terjadi sekitar kita fakta empris yang sama dapat diceritakan oleh beberapa orang dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan “kacamata “ teori yang mereka pergunakan. Tanpa taeri , kiata menjadi “buta” tentang peristiwa peristiwa empiris yang terjadi disekitar kita. Sebaiknya, tanpa diperhadapkan dengan peristiwa-peristiwa empiris sesuatu teori akan menjadi lumpuh. Karena teori sangat penting dalam kaitannya dengan penelitian empris, maka perlu kita mempunyai pemahaman yang sama tentang teori.
2. Proposisi
Proposisi merupakan bahan untuk membentuk teori dan mebutuhkan konsep sebagai bahan bakunya. Suatu proposisi mempunyai makna teoretis jika ia dibentuk dari konsep-konsep kunci suatu disiplin ilmu pengetahuan.
3. Konsep adalah istilah tau symbol yang menunjuk pada suatu pengertian tertentu rambu-rambu lalu lintas adalah symbol dan symbol itu menunjuk pada suatu pengertian tertentu yang perlu dipahami dan dipatuhi sebagai suatu per-aturan. “Sekolah” adalah istilah dan istilah ini mengingatkan kita pada suatu yang kongkret seperti gedung, guru , murid, pelajaran dan sebagainya.

C. Metode ilmiah dan metode Akal sehat
Metode penilitian ilmiah sering dibedakan dengan metode kal sehat (common sense) treutama dalam proses penilitiannya. Proses penelitian ilmiah bersifat empiris, terkendali analisis dan sistensis. Cirri-ciri ini secara terpadu tidak terdapat pada metode kal sehat .
D. Pengertian Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah sebagai proses bertanya menjawab memperhatikan peristiwa-peristiwa empris dan kerangka berpikir teoritis tertentu. Peristiwa-peristiwa empris sebagai pusat perhatian dapat dibedakan atas segala-segala alam dan gejala-gejala sosial. Gejala-gajala alam adalah peristiwa-peristiwa yang berlangsung di alam bukan karena perbuatan manusiasecara langsung, misalnya gempa bumi, meletusnya gunung berapi dan banjir. Fenomana sosial adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara dan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Penilitian terhadap gejala-gejala seperti itu disebut penilitian sosial.
E. Tipe Penilitian
Seperti ini disebutkan sebelumnya, penelitian bertitik tolak pada pertanyaan, bukan pernyataan. Jawaban dari suatu pernyataan akan dipertanyakan lagi sehingga kita sampai pada pernyataan yang paling mendasar. Pernyataan dasar tersebut menentukan tipe penelitian yang hendak dilaksanakan ada 3 pernyataan dasar yang menentukan tipe peneitian secara empiris yaitu apa, bagaimana, dan mengapa.



F. Manfaat Penelitian
Pengertian penelitian mengandung 2 manfaat penelitian Yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian yang bertitik tolak dan meragukan suatu teori tertentu disebut penelitian verifikatif. Keraguan terhadap suatu teri muncul jika teori yang bersangkutan tidak bisa lagi menjelaskan peristiwa-peristiwa actual yang dihadapi. Pengujian terhadap teori tersebut dilakukan melalui empiris dan hasilnya bisa menolak atau mengukuhkan atau merevisi taori yang bersangkutan.
2. Manfaat Praktis
Pada sisi lain penelitian bermanfaat pula untuk memecahkan masalah-masalah praktis mengubah lahan kering menjdai lahan yang subur, mengubah cara kerja supaya lebih efisien dan mengubah kurikulum supaya lebih berdaya guna bagi pembangunan sumberdaya manusia merupakan contoh-contoh permasalahan yang dapat dibantu pemecahannya melalui penelitian ilmiah.
Kedua manfaat penelitian tersebut merupakan syarat dilakukan suatu penelitian sebagaimana dinyatakan dalam rancangan (desain ) penelitian
G. Hakikat Penelitian
Penelitian atau riset adalah terjemahan dari bahasa Inggris research, yang merupakan gabungan dari kata re (kembali) dan to search (mencari). Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa research adalah berasal dari bahasa Perancis recherche.Intinya hakekat penelitian adalah “mencari kembali”.

Definisi tentang penelitian yang muncul sekarang ini bermacam-macam, salah satu yang cukup terkenal adalah menurut Webster’s New Collegiate Dictionary yang mengatakan bahwa penelitian adalah “penyidikan atau pemeriksaan bersungguh-sungguh, khususnya investigasi atau eksperimen yang bertujuan menemukan dan menafsirkan fakta, revisi atas teori atau dalil yang telah diterima” .
Dalam buku berjudul Introduction to Research, T. Hillway menambahkan bahwa penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. Ilmuwan lain bernama Woody memberikan gambaran bahwa penelitian adalah “metode menemukan kebenaran yang dilakukan dengan critical thinking (berpikir kritis)”.
Penelitian bisa menggunakan metode ilmiah (scientific method) atau non-ilmiah (unscientific method). Tapi kalau kita lihat dari definisi diatas, penelitian banyak bersinggungan dengan pemikiran kritis, rasional, logis (nalar), dan analitis, sehingga akhirnya penggunaan metode ilmiah (scientific method) adalah hal yang jamak dan disepakati umum dalam penelitian. Metode ilmiah juga dinilai lebih bisa diukur, dibuktikan dan dipahami dengan indera manusia. Penelitian yang menggunakan metode ilmiah disebut dengan penelitian ilmiah (scientific research).
1. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berguna untuk memperoleh penemuan-penemuan yang tidak terduga sebelumnya dan membangun kerangka teoritis baru. Penelitian kualitatif biasanya mengejar data verbal yang lebih mewakili fenomena dan bukan angka-angka yang penuh prosentaase dan merata yang kurang mewakili keseluruhan fenomena. Dari penelaitian kualitatif tersebut, data yang diperoleh dari lapangan biasanya tidak terstruktur dan relative banyak, sehingga memungkinkan peneliti untuk menata, mengkritis, dan mengklasifikasikan yanglebih menarik melalui penelitian kualitatif. Istilah penelitian kualitatif, awalnya beraasal dari sebuah pengamatan pengamatan kuantitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kualitatif (Suwardi Endraswara, 2006:81).
Menurut Brannen (1997:9-12), secara epistemologis memangada sedikit perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Jika penelitian kuantitatif selalu menentukan data dengan variabel-veriabel dan kategori ubahan, penelitian kualitatif justru sebaliknya. Perbedaan penting keduanya, terletak pada pengumpulan data. Tradisi kualitatif, peneliti sebagai instrument pengumpul data, mengikuti asumsi cultural, dan mengikuti data.
Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif. Penelitian kualitatif mencakup berbagai pendekatan yang berbeda satu sama lain tetapi memiliki karakteristik dan tujuan yang sama. Berbagai pendekatan tersebut dapat dikenal melalui berbagai istilah seperti: penelitian kualitatif, penelitian lapangan, penelitian naturalistik, penelitian interpretif, penelitian etnografik, penelitian post positivistic, penelitian fenomenologik, hermeneutic, humanistik dan studi kasus. Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif.
Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit.




2. Penelitian Kuantitatif
Menurut August Comte (1798-1857) menyatakan bahwa paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme).
Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason). Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan, bahwa secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi (Edmund Husserl 1859-1926).
Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi, paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional data empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Koheren besarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, serta korespondens berarti sesuai dengan kenyataan empiris. Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dari proses perumusan hipotesis yang deduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis, pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus; logico, hypothetico, verifikatif.

3. Tindakan
Tindakan adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam penelitian guna mencapai penelitian yang senpurna. Tindakan ini dimaksudkan agar peneliti mengetahui dengan jelas bahwa ada beberapa ketentuan dalam melakukan tindakan penelitian. Seperti halnya penelitian kualitatif dan kuantitatif, tindakan termasuk aspek yang perlu dikaji oleh seorang peneliti. Tindakan merupakan salah satu ketentuan dalam penelitian.









Daftar Pustaka :
1. Suriasumantri, JujunS.1985. Filsafat Ilmu :Subuah Pengantar Populer Jakarta : Penerbit Sinar Harapan
2. Hatta M. 1960. Pengantar ke dalam Elmu pengetahuan Jakarta PT Pembangunan
3. Nan Lin 1976. Faundations of Social Research New York : McGraw-Hill Book Company
4. Hadi, Sutrisno 1978. Metodologi research jilid I Yogyakarta: Yayasan penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gdjah Mada.
5. Nazir, Moh.1985 Metode Penelitian Jakarta Ghalia Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar